Bamula wan Bismillah

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr [103]: 1-3)

Sahabat, para pecinta kopi dimana saja anda berada, dan saat ini tengah membaca tulisan ini, mari kita sama-sama bersyukur. Karena Allah SWT telah menciptakan alam semesta dengan segala keteraturan dan keindahannya.

Salah satu ciptaannya adalah kopi, buah cherry yang ketika diproses menjadi coffee beans, mampu menjadi minuman yang sangat digemari di seluruh penjuru dunia.

Zaman dahulu, awal mula kopi berkembang di jazirah Arab, dan kaum muslimin memanfaatkan kopi sebagai "penegak punggung" agar mampu berlama-lama beribadah dan menimba ilmu. Kopi dirasakan--efeknya--mampu memberikan kesegaran badan, dan penambah tenaga.

Hingga kini kemudian, kopi pada perjalanannya berkembang pesat, dengan tradisi dan cara penyeduhannya masing-masing. Di suatu negeri mungkin kita menemukan orang-orang meminum kopi tanpa gula, dan di belahan dunia yang lain kita akan menemukan sebaliknya. Bahkan ada pula yang memakan biji kopi yang sudah disangrai secara langsung. Tidak ada yang salah memang. Karena ini soal selera.

Di daerah kami, Provinsi Kalimantan Selatan, kopi juga menjadi minuman yang sangat digandrungi, di berbagai strata sosial dan usia. Kopi menjadi semacam "pemersatu" dan "pencair" suasana dalam dialektika sosial.

Di Kalimantan Selatan, kami memiliki kopi khas, yaitu Kopi Pengaron. Biji kopi jenis robusta ini tumbuh di sebagian daerah Kabupaten Banjar, tepatnya di daerah Pengaron. (Bersambung)