Perjuangan "Kampanyekan" Kopi Pengaron

Alhamdulillah. Setahap demi setahap, kami memperjuangkan kopi lokal khas Kalimantan Selatan, Kopi Pengaron agar lebih dikenal luas. Terutama masyarakat daerah berjuluk bumi Pangeran Antasari ini terlebih dahulu.

Di Hudes Coffee Roastery, kami terus melakukan penelitian dan berpikir keras. Bagaimana caranya Kopi Pengaron sebagai kopi kebanggaan urang Banjar, bisa lebih berkualitas dan bercitarasa lebih sedap.

Tantangan tersendiri bagi kami dalam mengelola kopi robusta menjadi sajian yang bisa diminati semua kalangan. Oleh karena itu perlahan kami tak berdiam diri. Kini alhamdulillah, biji kopi (green beans) mampu kami sortir terlebih dahulu. Biji kopi yang tidak baik dipisahkan. Bahkan, sampai tahap seleksi beans Peaberry.

Kemudian kami tim Hudes Coffee Roastery juga menyangrai sendiri biji kopi Pengaron dengan waktu dan level roasting pilihan. Sehingga bisa didapatkan beberapa level sangrai. Seperti light, light to medium, medium, medium to dark, dan dark roast.

Dalam tataran rasa dan selera, kami berupaya agar rasa caramelly, brown sugar dan dark chocolatte bisa timbul. Ditambah aroma sedikit cinnamons. Perlu konsistensi dan kesabaran. Namun itulah letak kebahagiaannya.

Sebagai kedai kopi dan roastery spesialis Kopi Pengaron pertama di Kalimantan Selatan, Hudes Coffee Roastery bisa dikunjungi di Jalan Karya Sabumi, Komplek Kejaksaan, Jalur 2, Belakang KUA Banjarmasin Utara. IG: @HudesCoffee.

Yakin, Kopi Pengaron Bisa Mendunia

JIKA bicara rasa, Kopi Pengaron sudah sangat pas dengan lidah mayoritas "urang Banjar". Bitter, tebal, kandal, coklat, dan berbagai citarasa bisa saja muncul.

Bicara rasa, bicara kualitas. Konsekuensinya juga harus bicara proses dan sistem. Jika sudah begitu harus diperhatikan betul, dari hulu ke hilir.

Untuk itulah kami masih terus belajar dan belajar. Kami menyadari, tidak mudah memang memperjuangkan agar Kopi Pengaron bisa menjadi kopi berkualitas baik dan populer, hingga bisa menjadi salah satu kopi terbaik di dunia. Namun insya Allah itu bisa dilakukan. Kami meyakini akan hal itu

Hudes Coffee Roastery, Ingin Populerkan Kopi Pengaron Khas Banjar

BANJARMASIN, BBCOM – Berangkat dari hobi dan niat yang tulus untuk mengangkat harkat martabat kopi lokal, serta mensejahtrakan petani kopi di Kalimantan Selatan. HUDES Coffee hadir dengan seduhan kopi Pengaron khas Kalsel.

Ya, HUDES Coffee sang pelopor kedai Kopi Pengaron ini hadir menyajikan seduhan Kopi khas Kalimantan Selatan yang diolah apik oleh baristanya (penyaji kopi). Membuat masyarakat dan pecinta kopi pada khususnya bisa merasakan kenikmatan aroma dan cita rasa kopi lokal ini menjadi lebih spesial dari yang biasanya.

Syam Indra Pratama, yang menjalankan HUDES Coffee mengatakan, sudah saatnya kopi Pengaron diangkat, untuk dikenalkan kepada masyaakat sebagai kopi terbaik di Indonesia bahkan di dunia.

“Memang sudah menjadi visi HUDES menjadikan Kopi Pengaron khas Kalimantan Selatan ini menjadi salah satu kopi terbaik. Jadi ini bukan sekedar hobi . tapi visi yang sudah lama terpendam,” tuturnya.

Dia menambahkan, sebenarnya di Kalimantan Selatan sendiri memilki sumber daya kopi yang tidak kalah bagusnya dengan daerah lain. Hanya saja banyak masyarakat yang tidak menyadari hal itu. Sehingga HUDES Coffee berupaya memperkenalkannya dengan menciptakan seduhan Kopi Pengaron yang berbeda.

“Kita punya sumber daya kopi yang bagus. Mulai dari coffee cherry, green, beans, roasting, hingga proses penyeduhan perlu direvolusi konsepnya,” ujarnya.

HUDES Coffee yang beralamat di Jalan Hasan Basri Komplek Kejaksaan (samping KUA Banjarmasin Utara, seberang Pasadena Catering) Kota Banjarmasin buka setiap hari dari pukul 13.00 Wita sampai 21.00 Wita.

“Bagi kawan – kawan silakan merapat ke HUDES coffee. Open bar setiap hari dari pukul satu siang sampai sembilan malam. Dan kalau waktu shalat kita tutup sebentar. Untuk informasi lengkapnya follow Instagram @hudescoffee,” pungkasnya. [sbr]

sumber: www.beritabanjarmasin.com



Bamula wan Bismillah

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr [103]: 1-3)

Sahabat, para pecinta kopi dimana saja anda berada, dan saat ini tengah membaca tulisan ini, mari kita sama-sama bersyukur. Karena Allah SWT telah menciptakan alam semesta dengan segala keteraturan dan keindahannya.

Salah satu ciptaannya adalah kopi, buah cherry yang ketika diproses menjadi coffee beans, mampu menjadi minuman yang sangat digemari di seluruh penjuru dunia.

Zaman dahulu, awal mula kopi berkembang di jazirah Arab, dan kaum muslimin memanfaatkan kopi sebagai "penegak punggung" agar mampu berlama-lama beribadah dan menimba ilmu. Kopi dirasakan--efeknya--mampu memberikan kesegaran badan, dan penambah tenaga.

Hingga kini kemudian, kopi pada perjalanannya berkembang pesat, dengan tradisi dan cara penyeduhannya masing-masing. Di suatu negeri mungkin kita menemukan orang-orang meminum kopi tanpa gula, dan di belahan dunia yang lain kita akan menemukan sebaliknya. Bahkan ada pula yang memakan biji kopi yang sudah disangrai secara langsung. Tidak ada yang salah memang. Karena ini soal selera.

Di daerah kami, Provinsi Kalimantan Selatan, kopi juga menjadi minuman yang sangat digandrungi, di berbagai strata sosial dan usia. Kopi menjadi semacam "pemersatu" dan "pencair" suasana dalam dialektika sosial.

Di Kalimantan Selatan, kami memiliki kopi khas, yaitu Kopi Pengaron. Biji kopi jenis robusta ini tumbuh di sebagian daerah Kabupaten Banjar, tepatnya di daerah Pengaron. (Bersambung)